September 20, 2020

 Hi! It's been a while!

Maju-mundur mau nulis-nulis lagi di blog, akhirnya setelah berpikir panjang, kayaknya udah saatnya update kehidupan disini.

I'm 25 years old, married, and have a son, kaget ga sih?

Dua tahun lalu ga kebayang sama sekali kalo di tahun 2020, hari-hari gue dihiasi dengan tingkah laku kocak Langit, anak gue (wk sori emang umi abinya ini suka sok puitis, nanti ya diceritain behind the story of my son's name)

2020 ituh unik, campur aduk banget perasaannya. Dari akhir tahun 2019 Langit lahir, awal tahun suami gue sekolah lagi, terus pandemi covid-19, dan segala perintilan yang berubah rencananya gegara si pandemi ini. Belum lagi penyesuaian diri pun di uji mulai dari belajar jadi ibu, berteman dengan sakit, dan perjalanan pendewasaan lainnya. 

Seorang teman berkata, sharing pengalaman hidup yang ada hikmahnya insya Allah akan terhitung bermanfaat. Mudah-mudahan cerita-cerita nanti bisa jadi manfaat yaa buat gue maupun lo yang membaca!


Stay safe and stay healthy,

Lady

Posted on Sunday, September 20, 2020 by Lady Aurora

No comments

June 21, 2018

Warning: Tulisan ini murni numpahin unek-unek kurpen aja, mengingat saya mulai jengah sama kebacotan orang-orang di media sosial dan kayaknya platform paling pas buat ngebacot panjang ya di blog ini
Berasa ga sih makin kesini, orang-orang itu semakin polar dan semakin sering menunjukkan ke-polar-annya? Yang paling bikin gue gemes sih kalo udah terkait masalah politik negara atau feminisme. 
Gue jadi kepikiran juga, apakah bagian dari tumbuh dewasa adalah dengan menjadi polar terhadap hitam atau putih, menunjukkan keberpihakkan pada pihak satu atau pihak oposisi, memilih menjadi pihak positif atau pihak negatif. Toh satu sama lain punya kelebihan dan kekurangan. Toh satu sama lain harus hidup berdampingan. Tapi kalo udah berantem berlebihan, jengah juga liatnya.
Apa ga capek ya kalo terlalu menunjukkan ke-polar-annya?
Apa ga bisa kita jadi abu-abu dan cukup memendam warna asli kita?

Posted on Thursday, June 21, 2018 by Lady Aurora

No comments

April 16, 2018

Bingung.
Senang.
Bangga.
Takut.
Syukur.

Bingung, karena tidak saya sangka hari itu akan datang juga. Bingung, karena mulai sekarang akan ada gelar yang terus melekat dalam diri saya. Bingung, karena setelah ini semua keputusan langkah kaki ini tidak bisa se-ngasal sebelumnya.


Senang, karena jerih payah 5,5 tahun lebih akhirnya bisa saya lewati. Senang, karena mimpi masa kecil akhirnya tidak lagi sekadar catatan dan coretan motivasi di dinding kamar ini.


Bangga, karena gelar ini didapatkan dari Universitas yang memang selalu saya kagumi. Bangga, karena di akhir masa pendidikan dan akhir kebersamaan dengan angkatan 2012, saya bisa berkontribusi mengurus Pelantikan Lulusan Dokter FKUI 2018 yang awalnya bikin sakit kepala tapi akhirnya berhasil membuat semua pihak senang atas jerih payah 1,5 tahun ini.


Takut, karena mulai sekarang ikrar sumpah ini akan selalu saya bawa sampai mati. Takut, karena mulai sekarang tanggung jawab diri ini akan lebih besar dan ego saya harus menyadari hal ini.


Syukur, rasa syukur adalah yang akan terus terucap oleh diri ini. Atas izin Allah, semua ini bisa saya lewati.



Semoga Allah selalu melindungi kita, menjaga lisan kita, dan menjaga kita agar gelar ini dapat menjadi manfaat bagi sesama.


Tertanda, yang bentar lagi harus siap-siap berangkat kerja

dr. Lady Aurora

Posted on Monday, April 16, 2018 by Lady Aurora

No comments

December 17, 2017

Gue lagi merasa kosong akhir-akhir ini. Gue merasa “free floating” aja gitu, ngambang, ga ada rasa, ga ada drive melakukan sesuatu, ga ada rasa marah, ga ada rasa senang berlebihan.
Ga peduli.
Lelah berekspektasi.
Itu sih kayaknya, lelah berekspektasi. Tapi itu mungkin cuma kata-kata otak gue aja.

Pada ujungnya, hati gue masih banyak bergejolak dengan segala emosi labil anak muda. Mata gue masih suka epifora untuk hal-hal yang (menurut otak gue) ga penting.
Otak gue gabisa menerima hal-hal selebrasi haha hihi, tapi hati gue suka tersayat juga sih kalo dalam haha hihi itu gue ditinggalkan.

Ah sedih juga, hati gue masih ga kuat dengan kondisi yang tidak sesuai ekspektasi. Hati gue masih merasa mungkin orang bisa paham apa yang gue rasakan melalui gestur gue yang gabisa boong. Padahal, otak gue tau, mana mungkin lo memaksakan orang paham apa yang lagi lo pikirin.

Elah, ternyata gue masih aja berekspektasi.
Berekspektasi kalau apa yang gue lakukan akan menuai hasil yang manis saat itu juga. 
Berekspektasi, kalo hati ini, sudah sinkron sama otak gue ini.


Posted on Sunday, December 17, 2017 by Lady Aurora

No comments

September 11, 2017

Gue ngerti sekarang, kalau Allah itu Maha Baik
memberikan yang dibutuhkan, bukan yang diinginkan
memberikan ujian yang menguatkan, bukan menghancurkan
menciptakan makhluknya berbeda-beda, karena sama bukan garansi kedamaian yang abadi.

Suatu hal yang lumrah bagi seorang ENFP untuk suka berkontemplasi, tapi akhir-akhir ini kontemplasi gue banyak berkutat pada topik eksistensi manusia dan tujuan hidup manusia di dunia yang fana ini. Sebenarnya kontemplasi tentang topik ini emang udah banyak gue lakukan (tanpa sadar) sejak sekitar 2 tahun terakhir. Kalau dipikir-pikir, emang usia 20 tahun menjadi salah satu titik dimana gue banyak mikir, banyak bikin “drama” kehidupan, banyak beremosi, dan banyak belajar. Emang sih kebanyakan waktu gue lakukan untuk berkutat di 3 hal pertama yang gue sebutin di kalimat sebelum ini, tapi makin kesini, gue merasa lebih banyak perasaan kalau segala hal yang terjadi dalam hidup adalah suatu proses pembelajaran. Dan semakin lama, gue semakin sadar kalau seluruh proses pembelajaran dalam hidup adalah atas izin Allah, lagi-lagi karena Allah Maha Baik, Allah tahu seluruh hal dalam hidup yang gue lewati ini adalah proses pembelajaran yang penting bagi gue untuk menuju dewasa.


Gue belum merasa menjadi muslimah yang benar, masih suka ngaco, masih suka berburuk sangka, tapi gue bersyukur Allah masih terus mengizinkan gue untuk belajar. Kontemplasi kadang jadi hal yang bikin capek sendiri. Tapi, dengan munculnya sinaps baru dalam korteks otak gue tentang premis kalau Allah itu Maha Baik, insya Allah kontemplasi gue tentang kejadian dalam hidup ga lagi membuat gue semakin terpuruk, namun menjadi suatu pengingat bahwa Allah masih mengizinkan gue belajar, kalau hidup itu memang ga selamanya mulus, tapi kalau semua dikembalikan kepada nilai tulus kepada Allah, mudah-mudahan pelajaran hidup bisa jadi tabungan untuk kedamaian yang abadi (seperti apa yang gue sebut di paragraf pertama tadi).

Posted on Monday, September 11, 2017 by Lady Aurora

No comments

August 19, 2017

it hasn't been 1 month of being 22-year-old person, but life has taught me that :
  1. Parent’s natural instinct is to protect their children, in any situations
  2. Being an adult is scary, but you have to go through it
  3. Procrastination is a guilty pleasure. You know it is wrong, but you do it anyway
  4. Complicated people tend to share their thought to complicated people, because, you know, nobody wants to be a freak alone
  5. Everyone has their own pace in life
  6. You can’t pleased everyone, but it doesn’t mean that you can be a mean person
  7. Nobody is perfect; it means you are a human
  8. Assumptions lead to another assumptions
  9. Religion is a personal issue; be glad if you have found your inner peace by keeping your faith on your religion
  10. Your relationship with yourself matters

Note :
Terima kasih kepada Anda (dan Anda-Anda lainnya) yang telah menginspirasi pelajaran hidup di bulan ini. Saya bersyukur Tuhan mempertemukan oleh guru-guru kehidupan di waktu, saat, dan tempat yang tidak disangka-sangka.

Posted on Saturday, August 19, 2017 by Lady Aurora

No comments

February 15, 2017

Hai! Sudah lama tidak menumpahkan isi pikiran di blog ini. Ternyata kangen juga ya.
Sambil membuat posting ini saya sedang terlarut dalam alunan lagu berjudul "Sebelah Mata" dari Efek Rumah Kaca yang dibawakan dalam kolaborasi bersama Barasuara. Lagu ini baru saya dengar hari ini, tapi saya rasa sampai ketikan ini saya buat, lagu ini sudah saya ulang lebih dari 3 kali.Parah, lagunya seenak itu.
Saya kaget-tidak kaget sih dengan fakta kalau akhir-akhir ini saya jadi banyak dengar lagu dari Band Indie

Band Indie, band dengan lagu-lagu yang liriknya sering kali uniknya luar biasa. Coba Anda dengar lagu "Sebelah Mata", band mana lagi yang bisa menyisipkan istilah medis berupa penyakit metabolik bernama diabetes dalam liriknya dan menghasilkan lagu yang apik dan sangat mengena dalam hati. Unik, sangat menyentuh, begitu lirih.


Contoh lain, lagu "Bahas Bahasa" oleh Barasuara. Jujur, awalnya saya hanya menyadari bahwa drumnya keren juga, tapi kayaknya gue ga bakal dengerin ini on daily basis deh, berat amat nih lagu. Datanglah kesempatan ketika salah satu teman saya yang mengajak saya dan satu teman saya lainnya untuk menonton konser Barasuara. Pikiran skeptis itu hilang tiba-tiba. Lirik "Bahas Bahasa" ternyata memiliki arti yang sungguh dalam, dan lagi-lagi mengena dalam hati. Saya merasakan tamparan dari sang penyanyi pada bait bahasamu bahas bahasanya, llihat kau bicara dengan siapa. Saya merasakan adanya sindiran mengenai norma dan etika yang ada di masyarakat saat ini. Sungguh, ini adalah lirik yang dewasa dan penuh dengan lecutan untuk melakukan introspeksi diri.


Saya rasa untuk beberapa saat kedepan, saya akan lebih banyak mengekplorasi lagu-lagu Band Indie ini. Mungkin bisa menjadi bahan introspeksi diri?






Posted on Wednesday, February 15, 2017 by Lady Aurora

No comments