Gue ngerti sekarang, kalau Allah itu Maha Baik
memberikan yang dibutuhkan, bukan yang diinginkan
memberikan ujian yang menguatkan, bukan menghancurkan
menciptakan makhluknya berbeda-beda, karena sama bukan garansi kedamaian yang abadi.
Suatu hal yang lumrah bagi seorang ENFP untuk suka berkontemplasi, tapi akhir-akhir ini kontemplasi gue banyak berkutat pada topik eksistensi manusia dan tujuan hidup manusia di dunia yang fana ini. Sebenarnya kontemplasi tentang topik ini emang udah banyak gue lakukan (tanpa sadar) sejak sekitar 2 tahun terakhir. Kalau dipikir-pikir, emang usia 20 tahun menjadi salah satu titik dimana gue banyak mikir, banyak bikin “drama” kehidupan, banyak beremosi, dan banyak belajar. Emang sih kebanyakan waktu gue lakukan untuk berkutat di 3 hal pertama yang gue sebutin di kalimat sebelum ini, tapi makin kesini, gue merasa lebih banyak perasaan kalau segala hal yang terjadi dalam hidup adalah suatu proses pembelajaran. Dan semakin lama, gue semakin sadar kalau seluruh proses pembelajaran dalam hidup adalah atas izin Allah, lagi-lagi karena Allah Maha Baik, Allah tahu seluruh hal dalam hidup yang gue lewati ini adalah proses pembelajaran yang penting bagi gue untuk menuju dewasa.
Gue belum merasa menjadi muslimah yang benar, masih suka ngaco, masih suka berburuk sangka, tapi gue bersyukur Allah masih terus mengizinkan gue untuk belajar. Kontemplasi kadang jadi hal yang bikin capek sendiri. Tapi, dengan munculnya sinaps baru dalam korteks otak gue tentang premis kalau Allah itu Maha Baik, insya Allah kontemplasi gue tentang kejadian dalam hidup ga lagi membuat gue semakin terpuruk, namun menjadi suatu pengingat bahwa Allah masih mengizinkan gue belajar, kalau hidup itu memang ga selamanya mulus, tapi kalau semua dikembalikan kepada nilai tulus kepada Allah, mudah-mudahan pelajaran hidup bisa jadi tabungan untuk kedamaian yang abadi (seperti apa yang gue sebut di paragraf pertama tadi).
0 comments:
Post a Comment