December 9, 2016

Gue punya kebiasaan minum air yang bisa dibilang parah. Bukan parah gentongnya, tapi parah dikitnya! Sering ga sih denger jaman dulu SD-SMP-SMA disuruh minum minimal 8 gelas dalam 1 hari? Anggap aja ya 1 gelas itu 240 cc, berarti kalo dulu, kita selalu diajarin kalo minum seenggaknya 1920 cc per hari (gampangnya 2 liter kurang dikit lah ya).

Nah selama di pendidikan dokter apalagi di stase terakhir yang gue lewatin (Stase Bedah, departemen urologi to be exact), pertanyaan “Berapa banyak minum sehari” adalah hal yang selalu gue tanyain ke pasien. Berdasarkan rekomendasi yang gue baca di suatu artikel jurnal, rekomendasi asupan cairan buat cewe remaja hingga dewasa itu sekitar 2700 cc sedangkan cowo sekitar 3700 cc. Kenapa gue bilang asupan cairan instead of rekomendasi minum air? Karena cairan itu bisa didapet ga cuma dari air minum, tapi bisa dari jus, buah, dan makanan yang dikonsumsi misalnya sup.

Sedihnya adalah gue baru menyadari bahwa dalam sehari gue bisa minum palingan 1 botol air mineral yang ukuran sedang plus 1 gelas air, alias totalnya palingan 1 liter. Ya bisa ada tambahan dari cairan dalam makanan sih tapi tetep aja itu ga nyampe rekomendasi deh kayaknya. Ada berbagai alasan yang gue pikirkan kenapa gue punya kebiasaan minum irit.
  1. Emang pada dasarnya gue cenderung ga gampang haus
  2. Dari kecil gue ga biasa bawa-bawa botol minum, jadi yaa kalo mau minum di luar rumah harus beli dulu (atau minta temen HAHA)
  3. Suka medit sama diri sendiri soal minum alias suka mikir mending minum di rumah aja lah sekalian ataau kalo di restoran suka nunda minum biar beli minum di supermarket aja, ujung-ujungnya paling minumnya pas dirumah juga (yha intinya medit wq)
  4.  Mau abis olahraga pun gue minum kadang suka ditahan, balik lagi ke alasan nomor 2 dan 3

Udah bertahun-tahun hidup, baru sekarang gue nyadar kalo gue itu minum dalam jumlah dikit dan itu ga baik. Ini gue sadari khususnya karena selama di stase Bedah, gue sekelompok sama teman-teman yang selalu bawa tempat minum dan dikit-dikit minum, kalo air minumnya abis pasti langsung beli lagi atau isi ulang di dispenser yang ada di Rumah Sakit (tenang bukan dispenser pasien kok wq). Nah, teman-teman gue ini juga aware banget sama status hidrasi mereka.

Nah loh apaan lagi tuh status hidrasi?

Jadi, pada dasarnya tubuh kita butuh menjaga jumlah cairan yang masuk, yang ada di dalam tubuh, dan yang keluar. Hal ini bisa juga kita sebut sebagai mekanisme tubuh dalam menjaga homeostatis. Nah, tubuh kita itu diperkirakan tersusun 60%nya itu dari cairan. Tapi kan sulit lah ya kalo ngecek kebutuhan cairan tubuh seseorang ok atau ga dari komposisi tubuh seseorang yang real-time, atau dari jumlah cairan yang masuk dengan jumlah cairan yang keluar. Oleh karena itu, cara paling gampang buat liat apakah status hidrasi seseorang baik atau ga itu adalah dengan liat warna urin (air seni/air pipis). Status hidrasi yang baik bisa dilihat dari warna urin yang jernih bening atau kuning muda. Kalau status hidrasinya kurang baik, misalnya dengan kondisi kurang minum, urin yang keluar warnanya akan lebih pekat. Kondisi ini nih yang suka disebut sebagai dehidrasi.

Emang segitu pentingnya ya mencukupi kebutuhan minum? Wah, itu penting banget!

Balik lagi ke kondisi tubuh kita yang disusun sebagian besar dengan air, kondisi kekurangan cairan itu akan mengganggu keseimbangan homeostasis tubuh kita. Salah satu kondisinya adalah ketika air dalam tubuh sedikit, tubuh akan kompensasi dengan bikin sel yang notabenenya mengandung air buat mengeluarkan cairannya, ga lain ga bukan biar tubuh dapet cairan lagi dengan cepat. Si sel kan jadi “menciut” tuh, kondisi ini akan membuat sinyal ke otak buat nyuruh kita minum dan nyuruh ginjal kurangin jumlah cairan yang dikeluarin buat jadi urin. Walhasil, kita jadi pengen minum dan urin kita warnanya jadi lebih pekat. Persoalannya adalah, ginjal itu akan lebih sulit bekerja mengeluarkan zat-zat sisa menjadi urin kalau cairan yang ada sedikit. Kalau kondisi ini terjadi terus menerus, fungsi ginjal bisa terganggu, walhasil jadinya muncul lah penyakit gangguan ginjal maupun batu ginjal. Ga cuma ke ginjal, kondisi kurangnya cairan tubuh juga bisa berefek penurunan fungsi kognitif dan konsentrasi, fungsi saluran cerna (misalnya jadi konstipasi) sampai bisa membuat penurunan kesadaran.

Se-serem itu? Iya, segitu pentingnya loh ternyata minum air itu, bahkan dibilang manusia bisa bertahan hidup berhari-hari tanpa makanan tapi tidak dengan kebutuhan cairan.

Sekarang mungkin ada lagi yang mikir, “kalo gue minum kebanyakan bahaya ga?”
Pada dasarnya semua yang berlebihan itu ga baik. Nah, begitu juga dengan minum air, tapi kondisi ini jaraang banget kejadian. Kondisi yang ditakutin dari minum kebanyakan adalah kondisi dilusi natrium dalam tubuh. Apa itu maksudnya? Gampangnya sih itu kondisi seakan-akan tubuh kekurangan ion gara-gara ionnya terlarut dalam air yang jumlahnya besar (umpamanya kalo lo punya sirup 1 sendok terus tuh sirup lo campur 1 gelas air, selanjutnya lo coba larutin ke 5 gelas air, pasti kondisi kedua menunjukkan sirupnya jadi super encer dan lebih bening kan dibanding kondisi pertama) Naah pada kondisi dilusi natrium, karena tubuh merasa ion dalam tubuh rendah, tubuh bisa mengalami gangguan elektrolit yang kalo kondisinya parah bisa terjadi kejang atau penurunan kesadaran. Kondisi ini biasanya kalaupun terjadi, terjadinya pada atlet yang olahraganya mengedepankan endurance. Itu juga alasannya kenapa kalau atlet-atlet tersebut direkomendasikan untuk ganti cairan tubuh yang hilang dengan minuman yang mengandung ion.

Dari panjang-lebar refleksi diri gue terhadap kebiasaan minum gue yang parah ini, gue pun jadi bertekat untuk membiasakan diri seenggaknya minum 8 gelas per hari. Gue lagi coba trik dengan setidaknya minum 2 gelas pas pagi, 2 gelas pas makan siang, 2 gelas pas makan malam, dan 2 gelas pas mau tidur. Untuk orang yang ga punya kebiasaan minum bagus, ini mayan rempong cuy. Tapi ya, better late than never, right?


Jadi, sudah berapa gelas air yang lo minum hari ini?


Posted on Friday, December 09, 2016 by Lady Aurora

No comments

December 8, 2016

Hari itu adalah hari pertama libur jeda pergantian stase mayor dan minor (Alhamdulillah yha koas masih dapet libur :’) ) Menyambut liburan ini, gue udah janji ke kakak pertama gue yang sedang hamil untuk nemenin dia cek kehamilan mingguan mengingat usia kehamilannya yang masuk ke 38 minggu. Tindakan yang dilakukan kakak gue ini disebut sebagai Asuhan Antenatal (Antenatal Care/ANC). Kalo menurut WHO, kontrol antenatal ke fasilitas kesehatan itu adalah minimal 1 kali pas usia kehamilan dibawah 16 minggu,  1 kali pas usia kehamilan 24-28 minggu, 1 kali di usia kehamilan 30-32 minggu dan 1 kali di usia kehamilan 36-38 minggu. Tentunya, masing-masing kontrol kehamilan punya tujuan yang beda plus kelihatan kalau semakin lama semakin sering. Hal ini berkaitan erat dengan semakin pentingnya edukasi untuk ibu hamil tentang persiapan melahirkan sampai perawatan si bayi. 

Kakak gue termasuk rajin dalam hal kontrol ke dokter. Well, marilah kita tarik balik ke masa ketika gue nemenin kakak gue ANC pada usia kehamilan 35 minggu. Saat itu, diketahuilah bahwa kakak gue punya kadar Hemoglobin (Hb) yang rendah. Kondisi ini kita sebut sebagai anemia. Sebenernya, anemia pada ibu hamil adalah salah satu hal yang sangat mungkin terjadi, mengingat si ibu harus berbagi nutrisi yang dia makan bukan hanya untuk dirinya, tapi juga buat si dedek bayi, dan lagi oksigen yang diterima dedek juga didapetnya dari darah ibu yang mengandung oksigen, dan lo tahu siapa yang bawa oksigen? Yak betul, si hemoglobin tadi! Nah, sekarang mayan kebayang lah ya kenapa ibu hamil jadinya emang cenderung anemia. Singkat cerita, kakak gue yang secara kasat mata ga keliatan kaya orang Hb rendah banget jadinya disarankan untuk perbaikan asupan pola makan, dijelaskan dengan opsi transfusi darah kalau-kalau tidak ada perbaikan Hb yang cukup jelas dengan perbaikan nutrisi, dan dijelaskan opsi persalinan antara normal atau section caesarea. Nah sampailah ke pertanyaan dokter kandungan kakak gue, yaitu

“Bu, ibu punya BPJS kan? Dipake aja bu!”

Keluarga gue semuanya punya BPJS, tapi ga ada yang pernah make fasilitas BPJS. Dengan pemberitaan yang sering didenger dari media sana sini ditambah kondisi keluarga gue yang semuanya kerja sehingga emang kebiasaan kalo ke rumah sakit itu sore abis pulang kerja, semuanya merasa “Aelah, gue pake umum aja lah, cepet ga rempong”. Nah ini, rempong, hal yang sering banget dikaitkan dengan sistem jaminan kesehatan kita ini. Tapi dari sisi gue yang saat ini di pendidikan yang berkaitan erat dengan pasien dengan jaminan kesehatan ini, sejujurnya letak kerempongannya ga segitu gue dapat amati. Ya ini karena yang gue amati selama koas, adanya BPJS membantu banget pasien untuk berani dateng ke fasilitas kesehatan tanpa perlu mikir biaya yang segitu gedenya. But honestly I haven’t had experience and see through the patient point of view,

Until this time.

Kakak gue akhirnya mencoba make layanan BPJS kesehatan atau lebih tepatnya JKN dengan sistemnya di rujuk balik dulu ke fasilitas layanan kesehatan primer alias Puskesmas di daerah tempat tinggal gue dan nanti di rujuk lagi ke RS tipe B. Nah mungkin disini ada yang bertanya-tanya nih “maksudnya gimana dah lad?” Jadi, sistem JKN itu adalah rujukan berjenjang. Sistem ini sebenernya mau membuat pasien untuk ditangani di level yang tepat, ga ketinggian, ga kerendahan. Jadi sistemnya ada jenjang primer, sekunder, dan tersier. Primer itu yang kayak dokter umum, dokter keluarga lo, pokoknya yang paling deket sama keluarga deh. Sekunder itu misalnya Puskesmas dan Rumah Sakit yang tipe D. Tersier itu buat Rumah Sakit yang rujukan nasional (Rumah Sakit tipe A). Nah karena kakak gue sebenernya loncat ke Rumah Sakit yang tipe B tapi dengan kondisi kakak gue memang pernah section caesarea plus kondisi saat ini anemia, maka dia memang patut dilayani sama Rumah Sakit tipe B, alias Rumah Sakitnya ini. Tapii, dia harus balik dulu ke fasilitas pelayanan kesehatan primernya untuk memenuhi prasyarat rujukan berjenjang yang dianut oleh JKN. Kakak gue pun dateng ke Puskesmas dulu buat di periksa minimal 1 kali dan akhirnya dapet rujukan lagi deh ke Rumah Sakit tempat dia biasa kontrol.
Tiba lah di Selasa malam, H-1 ANC kakak gue sekaligus H-1 pertama kali pake BPJS. Ipar gue berpesan pada supirnya “Mas, besok ambilin antreannya subuh ya buat Ranny”

Lah gue kan awalnya bingung ya, emang segitunya? Subuh-subuh emang pendaftaran udah buka?

Gue pun nyamperin kakak gue tuh Rabu pagi jam 9-an karena kita janjian jam segitu siap-siap berangkat ke Rumah Sakit. Gue kira becanda aja itu berangkat subuh-subuh buat antre pendaftaran. Taunya beuuh beneran, supir keluarga kakak gue yang udah dateng jam 4.45 pagi aja dapet nomor antrean pendaftaran ke-201. Lo bayangin deh itu orang nomor  1 datengnya jam berapa coba. Dan pas gue dateng jam 9-an ke rumah kakak gue, ternyata yang udah dipanggil baru sampe nomor 135. Gue terus mikir, sebanyak itu ya orang Indonesia yang sakit? Sakit aja berebutan buat berobat.. Ini aja udah di jenjang pelayanan rujukan udah membludak banget, gimana di primer ya?

Hari itu total waktu yang digunakan buat berobat hampir 12 jam, dari jam 4.45 subuh sampai 4.30 sore. Memang itu waktu yang panjang banget buat suatu proses pelayanan kesehatan tapi inilah faktanya. Seorang teman gue sesama anak kedokteran pernah gue tanya, “Lo setuju ga sama sistem sekarang” dia bilang “Gue belum berubah sih sejauh ini pendapat gue, the best choice diantara pilihan-pilihan buruk” Gue pun sedikit banyak setuju dengan pendapat ini, mau gimanapun kita memang masuk ke era Universal Health Coverage. Ini adalah era ketika seorang warga tidak harus memikirkan dana untuk bisa dapat kesehatan, tapi memang masih banyak banget yang harus dibenahi disana-sini, but again, era ini memang akan muncul dan indeed, it’s the best choice.


Kalo ditanya, lo bakal pake ga lad layanan ini mulai sekarang? Gue masih ragu buat jawab “Ya” dengan lantang untuk sekarang. Tapi gue tidak menentang adanya JKN karena sistem ini memang sangat membantu khususnya masyarakat menengah ke bawah. Gue yakin sih semakin lama, sistem ini akan semakin baik sehingga baik pasien maupun tenaga kesehatan bisa sama-sama enak. 


Posted on Thursday, December 08, 2016 by Lady Aurora

No comments

December 7, 2016

Halo! Ternyata blog ini udah terbengkalai selama 2 tahun, but put aside the grieving part, Lady is back!
Gue berencana mempermak ulang blog ini, yaa biar enak aja dipandang mata. Gue juga sedang menyiapkan konten apa yang mau gue buat di blog ini. 2016 has brought many thoughtful experiences to me and i can't wait to share them to you!

Sit back, fasten your sit-belt, Bismillah, Let's do this!

Posted on Wednesday, December 07, 2016 by Lady Aurora

No comments