Gue punya kebiasaan minum air yang bisa dibilang parah. Bukan parah gentongnya, tapi parah dikitnya! Sering ga sih denger jaman dulu SD-SMP-SMA disuruh minum minimal 8 gelas dalam 1 hari? Anggap aja ya 1 gelas itu 240 cc, berarti kalo dulu, kita selalu diajarin kalo minum seenggaknya 1920 cc per hari (gampangnya 2 liter kurang dikit lah ya).

Nah selama di pendidikan dokter apalagi di stase terakhir yang gue lewatin (Stase Bedah, departemen urologi to be exact), pertanyaan “Berapa banyak minum sehari” adalah hal yang selalu gue tanyain ke pasien. Berdasarkan rekomendasi yang gue baca di suatu artikel jurnal, rekomendasi asupan cairan buat cewe remaja hingga dewasa itu sekitar 2700 cc sedangkan cowo sekitar 3700 cc. Kenapa gue bilang asupan cairan instead of rekomendasi minum air? Karena cairan itu bisa didapet ga cuma dari air minum, tapi bisa dari jus, buah, dan makanan yang dikonsumsi misalnya sup.

Sedihnya adalah gue baru menyadari bahwa dalam sehari gue bisa minum palingan 1 botol air mineral yang ukuran sedang plus 1 gelas air, alias totalnya palingan 1 liter. Ya bisa ada tambahan dari cairan dalam makanan sih tapi tetep aja itu ga nyampe rekomendasi deh kayaknya. Ada berbagai alasan yang gue pikirkan kenapa gue punya kebiasaan minum irit.
  1. Emang pada dasarnya gue cenderung ga gampang haus
  2. Dari kecil gue ga biasa bawa-bawa botol minum, jadi yaa kalo mau minum di luar rumah harus beli dulu (atau minta temen HAHA)
  3. Suka medit sama diri sendiri soal minum alias suka mikir mending minum di rumah aja lah sekalian ataau kalo di restoran suka nunda minum biar beli minum di supermarket aja, ujung-ujungnya paling minumnya pas dirumah juga (yha intinya medit wq)
  4.  Mau abis olahraga pun gue minum kadang suka ditahan, balik lagi ke alasan nomor 2 dan 3

Udah bertahun-tahun hidup, baru sekarang gue nyadar kalo gue itu minum dalam jumlah dikit dan itu ga baik. Ini gue sadari khususnya karena selama di stase Bedah, gue sekelompok sama teman-teman yang selalu bawa tempat minum dan dikit-dikit minum, kalo air minumnya abis pasti langsung beli lagi atau isi ulang di dispenser yang ada di Rumah Sakit (tenang bukan dispenser pasien kok wq). Nah, teman-teman gue ini juga aware banget sama status hidrasi mereka.

Nah loh apaan lagi tuh status hidrasi?

Jadi, pada dasarnya tubuh kita butuh menjaga jumlah cairan yang masuk, yang ada di dalam tubuh, dan yang keluar. Hal ini bisa juga kita sebut sebagai mekanisme tubuh dalam menjaga homeostatis. Nah, tubuh kita itu diperkirakan tersusun 60%nya itu dari cairan. Tapi kan sulit lah ya kalo ngecek kebutuhan cairan tubuh seseorang ok atau ga dari komposisi tubuh seseorang yang real-time, atau dari jumlah cairan yang masuk dengan jumlah cairan yang keluar. Oleh karena itu, cara paling gampang buat liat apakah status hidrasi seseorang baik atau ga itu adalah dengan liat warna urin (air seni/air pipis). Status hidrasi yang baik bisa dilihat dari warna urin yang jernih bening atau kuning muda. Kalau status hidrasinya kurang baik, misalnya dengan kondisi kurang minum, urin yang keluar warnanya akan lebih pekat. Kondisi ini nih yang suka disebut sebagai dehidrasi.

Emang segitu pentingnya ya mencukupi kebutuhan minum? Wah, itu penting banget!

Balik lagi ke kondisi tubuh kita yang disusun sebagian besar dengan air, kondisi kekurangan cairan itu akan mengganggu keseimbangan homeostasis tubuh kita. Salah satu kondisinya adalah ketika air dalam tubuh sedikit, tubuh akan kompensasi dengan bikin sel yang notabenenya mengandung air buat mengeluarkan cairannya, ga lain ga bukan biar tubuh dapet cairan lagi dengan cepat. Si sel kan jadi “menciut” tuh, kondisi ini akan membuat sinyal ke otak buat nyuruh kita minum dan nyuruh ginjal kurangin jumlah cairan yang dikeluarin buat jadi urin. Walhasil, kita jadi pengen minum dan urin kita warnanya jadi lebih pekat. Persoalannya adalah, ginjal itu akan lebih sulit bekerja mengeluarkan zat-zat sisa menjadi urin kalau cairan yang ada sedikit. Kalau kondisi ini terjadi terus menerus, fungsi ginjal bisa terganggu, walhasil jadinya muncul lah penyakit gangguan ginjal maupun batu ginjal. Ga cuma ke ginjal, kondisi kurangnya cairan tubuh juga bisa berefek penurunan fungsi kognitif dan konsentrasi, fungsi saluran cerna (misalnya jadi konstipasi) sampai bisa membuat penurunan kesadaran.

Se-serem itu? Iya, segitu pentingnya loh ternyata minum air itu, bahkan dibilang manusia bisa bertahan hidup berhari-hari tanpa makanan tapi tidak dengan kebutuhan cairan.

Sekarang mungkin ada lagi yang mikir, “kalo gue minum kebanyakan bahaya ga?”
Pada dasarnya semua yang berlebihan itu ga baik. Nah, begitu juga dengan minum air, tapi kondisi ini jaraang banget kejadian. Kondisi yang ditakutin dari minum kebanyakan adalah kondisi dilusi natrium dalam tubuh. Apa itu maksudnya? Gampangnya sih itu kondisi seakan-akan tubuh kekurangan ion gara-gara ionnya terlarut dalam air yang jumlahnya besar (umpamanya kalo lo punya sirup 1 sendok terus tuh sirup lo campur 1 gelas air, selanjutnya lo coba larutin ke 5 gelas air, pasti kondisi kedua menunjukkan sirupnya jadi super encer dan lebih bening kan dibanding kondisi pertama) Naah pada kondisi dilusi natrium, karena tubuh merasa ion dalam tubuh rendah, tubuh bisa mengalami gangguan elektrolit yang kalo kondisinya parah bisa terjadi kejang atau penurunan kesadaran. Kondisi ini biasanya kalaupun terjadi, terjadinya pada atlet yang olahraganya mengedepankan endurance. Itu juga alasannya kenapa kalau atlet-atlet tersebut direkomendasikan untuk ganti cairan tubuh yang hilang dengan minuman yang mengandung ion.

Dari panjang-lebar refleksi diri gue terhadap kebiasaan minum gue yang parah ini, gue pun jadi bertekat untuk membiasakan diri seenggaknya minum 8 gelas per hari. Gue lagi coba trik dengan setidaknya minum 2 gelas pas pagi, 2 gelas pas makan siang, 2 gelas pas makan malam, dan 2 gelas pas mau tidur. Untuk orang yang ga punya kebiasaan minum bagus, ini mayan rempong cuy. Tapi ya, better late than never, right?


Jadi, sudah berapa gelas air yang lo minum hari ini?